Showing posts with label Aplikasi Web Gratis. Show all posts
Showing posts with label Aplikasi Web Gratis. Show all posts

Friday, January 10, 2020

Aplikasi Hamilton yang dibuat dalam 3 bulan dengan Flutter meraih lebih dari 1 juta penginstalan [Video]

Aslinya diposting pada Flutter Medium oleh Martin Aguinis


Hamilton dan Posse, agensi desain dan pengembangan di New York, hanya membutuhkan tiga bulan untuk mengembangkan dan meluncurkan aplikasi seluler bagi acara Broadway yang sedang hit. Bagaimana mereka melakukannya? Menggunakan Flutter, framework UI seluler Google yang baru.

Menjangkau jutaan pengguna — dengan setengah juta pengguna aktif bulanan yang luar biasa dan dipublikasikan di App Store dan Google Play— aplikasi memungkinkan penggemar memasukkan lotre tiket, membeli merchandise, bermain trivia, berfoto selfie dengan #HamCam, membaca berita dan interviu terupdate, dan banyak lagi.

Tonton studi kasus video ini untuk melihat bagaimana Flutter terus membantu aplikasi seperti Hamilton agar berhasil di iOS dan Android. Anda bisa membaca detail selengkapnya tentang pengembangan aplikasi ini pada entri blog Posse.

Flutter gratis dan open source. Mulai sekarang di flutter.io. Kami tak sabar ingin segera melihat kreasi Anda!

//developers-id.googleblog.com/2018/04/video-aplikasi-hamilton-yang-dibuat.html

Monday, October 21, 2019

Data Binding Android dan Pelajaran yang Didapat

Data Binding Library (yang selanjutnya akan kami sebut ‘DB library’ dalam postingan ini) menawarkan cara yang fleksibel dan kuat untuk mengikat data ke UI Anda, tetapi seperti pepatah lama: ‘kekuatan yang besar diikuti tanggung jawab yang besar’. Hanya karena Anda menggunakan pengikatan data, bukan berarti Anda bisa menghindar dari menjadi pelaku UI yang baik.
Saya telah menggunakan pengikatan data di Android selama beberapa tahun terakhir dan postingan ini merinci beberapa hal yang telah saya pelajari selama ini.

Gunakan pengikatan standar bila memungkinkan
Adapter pengikat khusus adalah cara terbaik untuk menambahkan fungsionalitas khusus ke View dengan mudah. Seperti banyak developer, saya bertindak agak jauh dengan adapter pengikatan dan berakhir dengan class yang penuh berisi 15 adapter dengan kualitas yang berbeda-beda.
Penyebabnya adalah sejumlah adapter yang menghasilkan string terformat dan menyetelnya di TextViews. Adapter biasanya dirujuk hanya dalam satu layout:

Meskipun ini mungkin terlihat pintar, tetapi ada tiga kelemahan besar:
Sulit mengaturnya. Kecuali jika Anda adalah seorang yang sangat teratur, Anda cenderung memiliki satu file besar yang berisi semua metode adapter Anda. Antitesis yang kohesif dan terpisah.
Anda harus menggunakan instrumentasi untuk pengujian. Menurut definisi, adapter pengikatan tidak menampilkan nilai, mereka mengambil input kemudian menetapkan properti pada tampilan. Ini berarti Anda harus menggunakan instrumentasi untuk menguji logika khusus Anda, yang membuat pengujian menjadi lebih lambat dan mungkin lebih sulit dijaga.

Kode adapter pengikatan khusus (biasanya) tidak optimal. Jika Anda memperhatikan pengikatan teks bawaan [di sini], Anda akan melihat bahwa ia melakukan banyak pemeriksaan untuk menghindari pemanggilan TextView.setText(), sehingga mengefisienkan pemberian layout yang tidak terpakai. Saya jatuh ke dalam perangkap berpikir bahwa DB Library akan secara otomatis mengoptimalkan update tampilan. Dan itu benar, tetapi hanya jika Anda menggunakan adapter pengikat bawaan yang dioptimalkan dengan cermat.

Sebagai gantinya, pisahkan logika metode Anda menjadi class yang kohesif (saya menyebutnya kreator teks), kemudian teruskan ke pengikatan. Dari sana Anda bisa memanggil kreator teks dan menggunakan pengikatan tampilan bawaan: Dengan cara ini, kita mendapatkan semua efisiensi dari pengikatan bawaan, dan kita bisa dengan mudah menguji unit kode yang menciptakan string terformat.

Menjadikan adapter pengikatan khusus Anda lebih efisien
Jika Anda benar-benar perlu menggunakan adapter khusus, karena fungsionalitas yang Anda inginkan tidak tersedia, maka cobalah membuatnya seefisien mungkin. Maksud saya adalah dengan menggunakan semua optimalisasi UI Android standar: hindari memicu perubahan ukuran/layout bila memungkinkan.

Hal ini bisa hal yang sederhana seperti memeriksa apa yang sedang digunakan oleh tampilan vs. apa yang Anda setel. Berikut adalah contoh di mana kita menerapkan kembali adapter ImageView standar untuk android:drawable: Sayangnya, tampilan tidak selalu bisa mengekspos status mengenai apa yang perlu kita periksa. Berikut adalah contoh dengan setelan toggle max-lines pada TextView. Ia memfungsikan toggle dengan mengubah properti maxLines TextView, bersama dengan transisi layout tertunda.



Supaya Anda bisa tahu tentang apa yang dilakukannya
Sebelumnya, adapter pengikatan berformat sederhana dan selalu menyetel properti maxLines, bersama dengan listener klik. TextView akan selalu memicu layout ketika setMaxLines() dipanggil, yang berarti bahwa setiap kali adapter pengikatan dijalankan, layout akan terpicu.

Jadi mari kita perbaiki. Karena fungsionalitas ini sepenuhnya terpisah dari TextView (kita hanya memanggil setMaxLines() dengan nilai yang berbeda saat diklik), kita perlu menyimpan sendiri status ‘current’. Untungnya, View memberikan kita cara praktis untuk melakukannya melalui mekanisme tag. Di sini, kita hanya menyimpan nilai collapsedMaxLines yang saat ini disetel dalam tag, dan ketika adapter dijalankan, kita memanggil setMaxLines(), dll. hanya jika nilainya berbeda.

lihat selengkapnya disini https://developers-id.googleblog.com/2019/01/data-binding-pelajaran-yang-didapat.html

Saturday, October 19, 2019

Memindahkan Android Studio dan Android Emulator ke versi 64-bit

Memindahkan Android Studio dan Android Emulator ke versi 64-bit

Dengan Project Marble, tim Android Studio berfokus pada upaya untuk membuat fitur-fitur dasar dan alur Integrated Development Environment (IDE) yang solid. Kinerja adalah tenant yang mendasari dalam memberikan IDE berkualitas tinggi. Untuk tujuan ini, kami mempertajam fokus produk dan hanya akan mendukung sistem operasi 64-bit ke depan. Menggunakan Android Studio dengan sistem operasi 64-bit memungkinkan akses yang efisien ke memori, baik untuk IDE maupun Android Emulator, dan secara keseluruhan mengarah pada pengalaman pengembangan yang lebih baik. Meskipun tidak akan memengaruhi sebagian besar pengguna Android Studio, perubahan ini memang berdampak jika Anda menggunakan versi 32-bit Microsoft® Windows®. Untuk membantu transisi bagi developer yang menggunakan Microsoft Windows versi 32-bit, kami ingin memberi Anda detail tentang timeline depresiasi mendatang ditambah langkah-langkah yang harus dilakukan untuk bersiap-siap menghadapi perubahan ini.

Timeline
Untuk meminimalkan dampak perubahan ini terhadap sistem operasi 64-bit yang didukung secara eksklusif, kami pertama-tama akan menghentikan dukungan untuk versi 32-bit. Selama fase depresiasi, baik Android Studio maupun Android Emulator akan terus bekerja, tetapi produk-produknya tidak akan menerima update fitur baru. Selama masa transisi ini, Anda masih bisa mendownload produk dari situs web Android Studio. Setelah satu tahun, kami akan secara resmi mengakhiri dukungan produk dan akan menghapus link download versi 32-bit. Catatan, jika Anda sebelumnya sudah menginstal Android Studio versi 32-bit selama periode ini maka produk tersebut akan terus berfungsi, tetapi kami tidak akan menyediakan link untuk mendownload ulang produk tersebut. Tanggal untuk periode akhir dukungan dan depresiasi bisa dilihat dalam tabel di bawah ini:

Versi Produk 32-bit yang Didukung Depresiasi dari Akhir Dukungan pada
Android Studio IDE 3.6 31 Desember 2019 31 Desember 2020
Android Emulator 28.0.25 30 Juni 2019 31 Desember 2020

Keuntungan lingkungan pengembangan 64-bit
Ada beberapa keuntungan ketika kita menggunakan Android Studio versi 64-bit, yang meliputi:
Kinerja - IDE bisa bekerja lebih baik karena dapat mengakses memori lebih dari 4GB. Peningkatan memori khususnya memberikan pengalaman yang lebih baik ketika Anda mengerjakan project besar.
Dukungan Aplikasi 64-bit - Anda bisa membangun versi aplikasi 32-bit dan 64-bit bila aplikasi Anda menggunakan kode native C/C++. Pengujian pada kedua arsitektur bisa membantu Anda bersiap-siap untuk persyaratan 64-bit di Google Play yang dimulai pada 1 Agustus 2019.

Pengujian pada Emulator - Citra sistem Android Emulator 32-bit maupun 64-bit didukung oleh Android Emulator versi 64-bit. Fleksibilitas ini mempermudah pengujian aplikasi Anda di berbagai lingkungan Android dengan satu mesin pengembangan.

Langkah berikutnya
Ringkasan, sebelum mengakhiri dukungan untuk Android Studio versi 32-bit, kami ingin memberi tahu Anda terlebih dahulu, menyediakan panduan, dan memberikan waktu tunggu satu tahun untuk membantu Anda bermigrasi ke sistem operasi 64-bit. Anda masih bisa menggunakan Android Studio versi 32-bit, tetapi perlu diingat bahwa versi ini tidak akan menerima update di masa mendatang. Oleh karena itu, jika Anda ingin bermigrasi, kami sarankan Anda memulai perencanaan lebih awal sehingga Anda bisa terus mendapatkan update produk terbaru dan memanfaatkan secara maksimal peningkatan kinerja lingkungan pengembangan 64-bit.

lihat selengkap nya di https://developers-id.googleblog.com/2019/06/memindahkan-android-studio-dan-android.html

Thursday, October 17, 2019

Di Android Google I/O 2019



Google I/O 2019
Salah satu hal paling menakjubkan tentang Google I/O adalah livestream/video dari acara ini. Sangat menyenangkan jika Anda bisa hadir langsung di acara ini, terutama karena kami dapat berbicara dengan Anda untuk mengetahui masalah atau pertanyaan yang Anda miliki. Tetapi tidak semua orang bisa mendapatkan tiket, bepergian, atau meninggalkan pekerjaan coding mereka. Jadi kami menyiarkan streaming langsung hampir semua konten dan memublikasikan rekaman semua sesi teknis untuk memastikan bahwa semua orang di mana saja bisa melihat presentasi dan mendapatkan highlight konferensi dan kondisi Android terkini.

Dalam beberapa tahun terakhir, tim produksi telah melakukan tugasnya dengan sangat baik sehingga video dapat langsung diposting segera setelah pembicaraan selesai. Dalam waktu dekat, mereka akan memposting rekaman lebih cepat dari presentasi yang sebenarnya, sehingga akan sangat membantu pembicara.

Namun masalah yang saya temukan dengan banyak konten video adalah... ada begitu banyak konten video. Jika saya tidak tahu persis apa yang saya cari di berbagai playlist YouTube, ini akan memakan waktu cukup lama untuk ditemukan, atau saya mungkin menyerah dan kembali menonton video kucing. (Mereka sangat imut, benar kan?)

Jadi saya pikir tahun ini saya akan mencoba mengelola playlist untuk developer Android, untuk mencoba mengategorikan apa yang kami sampaikan di konferensi untuk membantu Anda menemukan hal-hal yang mungkin ingin Anda tonton, dan menautkan konten terkait lainnya jika diperlukan. Mungkin saya terlambat masuk ke permainan ini, dengan I/O sudah dua bulan berlalu, tetapi mudah-mudahan hal ini masih berguna bagi penunda (atau bahkan penunda amatir) di antara Anda yang belum sempat menonton I/O.

Jika memang membantu, kita bisa mencoba melakukan ini di masa mendatang. Jika tidak, mungkin saya akan terus membuat playlist untuk hiburan saja; lagi pula, saya akan mengelola semua daftar video, lebih baik saya juga mengetahui di mana tempat menonton yang asyik sambil makan popcorn di masa mendatang.

Jadi inilah dia, Playlist Android I/O 2019 saya, sudah dikategorikan. Beberapa sesi muncul beberapa kali, karena kontennya tumpang tindih dengan kategori lain atau saya tidak bisa memutuskan. Beberapa sesi memiliki keterangan ketika saya merasa hal itu dibutuhkan, tetapi sebagian besar sesi sudah memiliki judul yang jelas.

Playlist
  • Semua Sesi Google I/O 2019Bagi developer yang bukan hanya membahas tentang Android
  • Android & Play di Google I/O 2019Semua sesi Android

Keynote
  • Google Keynote
  • Secara internal, kami menyebutnya Consumer Keynote
  • Developer Keynote
  • Highlight developer untuk Android… dan yang lainnya

Ringkasan
Biasanya, Anda menginginkan detail teknis dan lebih mendalam, tetapi sesi ringkasan membantu menjelaskan Gambaran Umum tentang apa yang terjadi, dan ke mana harus mencari kepingan-kepingan terperinci itu.

  • What’s New in AndroidSaya coba untuk tidak melewatkan yang satu ini, terutama karena pembicara bersama ini akan sangat marah jika saya melakukannya.
  • Kami mencoba memberikan gambaran yang sangat luas tentang sebagian besar hal yang harus diperhatikan developer dalam platform dan library Jetpack, lengkap dengan link ke pembicaraan terkait dan sumber daya lainnya.
  • What’s New in Android Development Tools
  • Ada banyak sesi Fitur (di bawah), tetapi sesi ini memberikan ringkasan luas tentang fitur-fitur baru.
  • What’s New in Google Play
  • Berbagai perubahan kebijakan dan fitur distribusi, seperti update dalam aplikasi.
lihat selengkapnya di sini https://developers-id.googleblog.com/2019/07/sekarang-di-android.html

Wednesday, October 16, 2019

Yang Baru di Android Q Untuk Teks

Ditulis oleh Florina Muntenescu, Android Developer Advocate

Menampilkan teks adalah tugas penting dalam sebagian besar aplikasi, jadi di Android Q kami terus menghadirkan fitur baru untuk meningkatkan kinerja dan mendukung kebutuhan Anda. Kami secara default menonaktifkan hyphenation, yang memungkinkan pembuatan jenis huruf menggunakan beberapa font atau jenis font, menampilkan daftar font yang terinstal pada perangkat, dan meningkatkan beberapa API penataan gaya teks yang paling sering digunakan.

Hyphenation secara default dinonaktifkan di Android Q dan AppCompat v1.1.0
Pengujian kinerja kami menunjukkan bahwa ketika hyphenation diaktifkan, 70% dari waktu yang dipakai untuk mengukur teks adalah pemrosesan hyphenation.



Hyphenation membutuhkan waktu hingga 70% untuk mengukur teks
Mengingat bahwa hyphenation sering kali tidak dibutuhkan untuk semua TextViews dalam aplikasi, dan karena dampaknya pada kinerja, kami memutuskan untuk menonaktifkan hyphenation secara default di Android Q dan AppCompat v1.1.0. Jika Anda ingin menggunakan hyphenation, Anda harus mengaktifkannya secara manual di aplikasi dengan menyetel frekuensi hyphenation ke normal. Anda bisa menyetelnya dengan beberapa cara:

Sebagai atribut TextAppearance dalam styles.xml:
<style name="MyTextAppearance" parent="TextAppearance.AppCompat">
    <item name="android:hyphenationFrequency">normal</item>
</style>
Sebagai atribut TextView:
<TextView android:hyphenationFrequency="normal" />
Langsung dalam kode:
textView.hyphenationFrequency = Layout.HYPHENATION_FREQUENCY_NORMAL
Cari tahu selengkapnya tentang cara kerja hyphenation dari pembahasan di Android Dev Summit 2018.

Menggunakan beberapa font khusus dalam TextView yang sama
Pertimbangkan tombol yang memadukan font khusus (Lato dalam contoh ini) dengan font ikon:



Tombol dengan ikon dan font Latin
Class Button hanya menerima satu instance jenis huruf yang akan ditetapkan pada teks. Pra-Android Q, Anda bisa membuat Typeface menggunakan satu jenis font. Android Q memungkinkan pembuatan jenis huruf dari beberapa jenis font dengan API baru, Typeface.CustomFallbackBuilder, yang memungkinkan penambahan hingga 64 jenis font per jenis huruf.

Contoh font ikon kami bisa diimplementasikan seperti ini:
button.typeface = Typeface.CustomFallbackBuilder(
    // add the Latin font
    FontFamily.Builder(
        Font.Builder(assets, "lato.ttf").build()
    ).build()
).addCustomFallback(
    // add the icon font
    FontFamily.Builder(
        Font.Builder(assets, "icon_font.ttf").build()
    ).build()
).build()
Saat membuat jenis font, pastikan Anda tidak memasukkan font dari jenis yang berbeda ke dalam objek jenis font yang sama atau model font yang sama ke dalam jenis font yang sama. Misalnya, memasukkan Lato, Kosugi, dan Material ke dalam jenis font yang sama akan menciptakan konfigurasi yang tidak valid, seperti halnya memasukkan dua font bold ke dalam jenis font yang sama.
Untuk menetapkan jenis font umum (serif, sans-serif, atau monospace) agar digunakan ketika teks dirender menggunakan font sistem, gunakan metode setSystemFallback() untuk menyetel font pengganti sistem:
Typeface.CustomFallbackBuilder(
    FontFamily.Builder(
       ...
    ).build()
).setSystemFallback("sans-serif")
.build() 

lihat sumber lengkap nya di https://developers-id.googleblog.com/2019/08/yang-baru-untuk-teks-di-android-q.html

Wednesday, July 31, 2019

Penerima penghargaan di Science Fair 2019, Celestine Wenardy berhasil masuk dalam jajaran 5 besar


Hari ini, di Mountain View, California, Celestine Wenardy, pelajar berumur 16 tahun asal Indonesia, berhasil masuk dalam deretan penerima penghargaan dan berhak mendapatkan beasiswa pendidikan sebesar 15.000 USD, kunjungan kantor pusat Virgin Galactic, dan kesempatan untuk bertemu mentor teknik dari Virgin Galactic selama setahun.

Celestine mengembangkan sebuah alat glukometer yang dapat mengukur konsentrasi kadar gula dalam darah tanpa harus melakukan pengambilan sampel darah. Alat yang dikembangkan Celestine ini diharapkan dapat menjawab beberapa kendala isu diabetes yang ada di Indonesia karena diklaim lebih murah dari harga glukometer yang ada di pasaran, mudah untuk digunakan, dan dapat digunakan tanpa melakukan pengambilan sampel darah.

 Di ajang Google Science Fair,  Google menantang para pelajar untuk menyalurkan rasa ingin tahu dan kecerdasan mereka dalam menemukan, menyusun, atau membangun solusi atas hal-hal yang mereka sukai. Ribuan pelajar turut berpartisipasi dan akhir pekan lalu kami menyambut 24 finalis dari 14 negara di seluruh dunia ke kantor pusat Google di California untuk mengumumkan para pemenang.

Para pelajar pembuat perubahan ini mengatasi berbagai masalah di bidang keberlanjutan, kesehatan, keamanan, dan aksesibilitas. Ada banyak sekali aplikasi yang kami terima dari berbagai disiplin STEM - mulai dari penggunaan AI untuk membantu mendeteksi penyakit pada tanaman hingga menemukan cara baru untuk mendiagnosis penyakit jantung. Proyek-proyek tersebut sangat menarik dan tentunya memiliki dampak positif yang dapat  menjadi solusi bagi beberapa masalah terberat di dunia.

Berikut adalah kelima pelajar penerima penghargaan:

Hadiah Utama: Fionn Ferreira - Pelajar dari West Cork, Irlandia yang ingin membantu menyelamatkan laut dengan metode penyaringan pada satu waktu.

Virgin Galactic Pioneer Award: Celestine Wenardy - Seorang siswa dari Jakarta yang mencari cara non-invasif untuk menguji kadar gula darah.

Scientific American Innovator Award: Tuan Dolmen - Pelajar yang menggemari sains asal Turki menemukan cara untuk memanfaatkan energi dari getaran pohon.

National Geographic Explorer Award: Aman KA dan AU Nachiketh - Dua ilmuwan muda dari India yang menemukan cara ramah lingkungan untuk menggumpalkan karet.

Lego Education Builder Award: Daniel Kazanstev - Seorang siswa dari Rusia yang ingin menemukan cara untuk membantu penderita gangguan pendengaran agar dapat berkomunikasi dengan lingkungan sekitar.

Google bekerja sama dengan panel juri, termasuk mitra kami: Lego Education, Scientific American, Virgin Galactic, dan National Geographic. Terima kasih atas kontribusinya di bidang sains dan teknik yang telah membantu kami menemukan generasi problem-solver berikutnya.

Di belakang setiap siswa yang ambisius pastinya ada orang tua serta guru yang mendukung dan mendorong mereka untuk terus belajar. Dan untuk para siswa, kalian hebat! Kami tidak sabar untuk melihat apa yang kamu lakukan selanjutnya.

sumber : https://indonesia.googleblog.com/2019/07/celestine-wenardy-berhasil-masuk-dalam.html

Monday, July 15, 2019

Kini Pengguna Dapat Lebih Mengontrol Konten di Halaman Beranda dan Video Berikutnya

Bagi kami, menghubungkan pengguna ke konten yang mereka sukai adalah hal penting. Kami ingin membantu pengguna menemukan passion dan minat baru, seperti menemukan artis favorit baru, kreator baru yang dapat mereka ikuti channelnya, atau bahkan sekadar mencari resep masakan yang enak. Namun, tetap saja Andalah yang paling tahu jenis konten yang benar-benar ingin Anda tonton. Salah satu masukan yang sering kami terima dari pengguna adalah: mereka ingin bisa lebih mengontrol video yang muncul di halaman Beranda dan saran Video Berikutnya. Oleh karena itu, kami sekarang ingin memberikan kendali lebih kepada Anda. Berikut ini adalah tiga perubahan spesifik yang akan kami luncurkan dalam beberapa hari mendatang:

1. Eksplorasi topik dan video terkait di halaman Beranda dan Video berikutnya: Sekarang Anda dapat mengeksplorasi topik dan video terkait dengan lebih mudah. Misalnya video membuat roti, episode terbaru dari acara malam favorit Anda, atau genre musik favorit Anda, serta melihat lebih banyak konten lainnya yang Anda sukai di YouTube. Pilihan video yang Anda lihat didasarkan oleh saran yang telah Anda sesuaikan sendiri, supaya Anda bisa lebih cepat menemukan video yang dicari. Saran-saran tersebut bisa berupa video yang berkaitan dengan video yang sedang Anda tonton, video yang dipublikasikan oleh channel yang sedang Anda tonton, atau topik lainnya yang mungkin menarik minat Anda. Fitur baru ini dapat diakses di halaman beranda ketika Anda men-scroll layar ke atas, atau di bagian Video berikutnya saat Anda sedang menjelajahi video. Untuk saat ini fitur hanya tersedia bagi para pengguna login dalam bahasa Inggris di aplikasi YouTube untuk Android, dan akan tersedia untuk iOS, desktop, dan bahasa-bahasa lainnya dalam waktu dekat.


Eksplorasi topik di halaman Beranda


Eksplorasi topik di Video berikutnya

2. Hapus saran konten dari channel yang tidak ingin Anda tonton: Walaupun kami sudah sangat berupaya untuk menyarankan video yang mungkin dapat Anda nikmati, saran yang kami berikan mungkin saja tidak sesuai harapan. Oleh sebab itu, sekarang kami akan memberikan kontrol lebih banyak kepada Anda. Kami telah menyederhanakan proses jika Anda ingin berhenti melihat saran video dari suatu channel. Cukup ketuk menu tiga titik di sebelah video yang muncul di halaman Beranda atau Video berikutnya, kemudian ketuk “Jangan rekomendasikan channel”. Setelah itu, Anda akan berhenti menerima saran/rekomendasi video dari channel tersebut. Namun Anda masih bisa melihat video itu jika Anda subscribe ke channelnya, menelusuri video tersebut, atau mengunjungi halaman channel atau di tab Trending. Fitur ini telah diluncurkan secara global pada hari ini di aplikasi YouTube untuk Android dan iOS, dan akan tersedia untuk versi desktop dalam waktu dekat.


Menghapus saran dari channel

3. Pelajari lebih lanjut mengapa suatu video disarankan kepada Anda: Terkadang kami merekomendasikan video dari channel-channel yang belum pernah Anda tonton, berdasarkan video yang disukai dan telah ditonton oleh pengguna yang memiliki minat serupa dengan Anda. Ketika kami memberikan saran video berdasarkan hal tersebut, sekarang Anda akan melihat lebih banyak informasi dalam kotak kecil yang muncul di bawah video. Fungsi dari informasi ini adalah untuk menjelaskan mengapa video muncul di halaman beranda Anda, serta untuk memudahkan Anda menemukan video dari channel yang mungkin Anda sukai. Fitur baru ini telah diluncurkan secara global pada hari ini di aplikasi YouTube untuk iOS dan akan tersedia untuk Android serta desktop dalam waktu dekat.


Alasan mengapa Anda mungkin menyukai suatu video

Kami harap fitur-fitur baru ini dapat membantu Anda menjelajahi beragam konten yang luar biasa banyaknya di YouTube, serta memudahkan Anda menemukan berbagai video menarik untuk ditonton. Kami tunggu saran dan masukan Anda mengenai fitur-fitur baru ini.

https:// indonesia.googleblog com/2019/06/kini-pengguna-dapat-lebih-mengontrol_27